Mana Mesjid Aqsa sebenarnya? (Catatan perjalanan Rektor UMP ke Timur Tengah)

17 Juni 2015, kategori Artikel hits 1875

""

Palangkaraya - Salah satu impian seorang Muslim adalah berkunjung ke Mesjid Aqsa di kota Yerusalem di Israel, karena Mesjid Aqsa merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum Ka'bah di kota Mekkah dan tempat yang dilalui nabi Muhammad pada peristiwa Isra Mi"raj. Masjid Aqsa juga merupakan tempat suci ketiga umat Islam setelah Mekkah dan Madinah. Tapi bagaimana jika  sebenarnya Mesjid Aqsa itu tidak ada? Berikut catatan perjalanan Rektor UMP bersama rombongan Walikota Palangka Raya beberapa waktu yang lalu ke Israel.

Berlagak bodoh di imigrasi

Sebagai orang yang beberapa kali bepergian ke luar negeri, saya merasa bahwa pemeriksaan imigrasi Israel termasuk yang ketat dan rumit, bahkan jika kita bandingkan dengan pemeriksaan imigrasi di Amerika Serikat yang terkenal ketat pasca peristiwa 11 September.  Kami memasuki Israel dari perbatasan Yordania, yakni melalui Allenby Bridge yang oleh orang Yordania disebut sebagai Jembatan Raja Husein. Jembatan ini melintasi sungai Yordan dan menjadi semacam penghubung antara Yordania dan Israel. Di sekitar jembatan inilah terletak border tempat pemeriksaan imigrasi.

Kami berangkat dari hotel di kota Amman sekitar pukul 7.30 waktu setempat, dan tiba di border Allenby Bridge sekitar pukul 09.00. Saat tiba di perbatasan tersebut, tampak antrian panjang mengular di depan loket pemeriksaan paspor, yang melambangkan bahwa pemeriksaan berlangsung ketat. Sudah terbayang pemeriksaan yang rumit akan kami hadapi, apalagi tour leader kami sudah mewanti wanti bahwa pemeriksaan imigrasi di Israel agak rumit, sehingga kami harus menghafal nama kakek dan alamat email. Sebagian besar pengantri adalah warga Yerusalem, dan sebagian lagi adalah para turis manca negara. Kami diwajibkan menurunkan seluruh barang bawaan, karena bus Yordan yang kami gunakan hanya dibolehkan mengantar sampai perbatasan. Untuk perjalanan di Yerusalem, kami harus menggunakan bus setempat. Saya sengaja mengambil giliran terakhir bersama dengan tour leader, untuk memastikan bahwa seluruh anggota rombongan berhasil melalui pemeriksaan dan ingin mengetahui seketat apa pemeriksaan imigrasi di Israel.

Hati saya sangat lega ketika seluruh anggota rombongan berhasil melalui pemeriksaan paspor dan barang bawaan tanpa halangan. Persepsi pertama saya adalah, ternyata pemeriksaan imigrasi Israel tidaklah serumit yang diceritakan oleh tour leader kami. Ternyata, loket yang telah berhasil kami lalui, hanya merupakan loket pertama, karena setelah itu masih ada 2 tempat pemeriksaan lagi. Di loket kedua inilah ternyata pemeriksaan dilakukan lebih teliti dan ketat. Pertanyaannya juga lebih rumit, sampai pada alamat email, alamat tinggal selama di kota Yerusalem, dan berapa lama tinggalnya. Memang ada sebagian teman dalam rombongan yang tidak mengalami pemeriksaan ketat karena hanya dicocokkan wajahnya dengan foto di paspor, tetapi sebagian besar pendatang tampaknya mengalami pemeriksaan yang rumit.

Satu satunya cara jitu menghindari pemeriksaan yang rumit adalah dengan berlagak bodoh  dan tidak mengerti pertanyaan yang dilontarkan petugas imigrasi dalam bahasa Inggris. Triknya adalah, ketika ditanya oleh petugas imigrasi, maka angkat tangan dan gelengkan kepala, sambil dicampur sedikit bahasa kita yang tidak dimengerti oleh petugas imigrasi. Tampaknya dengan trik ini, petugas imigrasi dibuat frustasi berkomunikasi karena setiap pertanyaan petugas dijawab dengan gelengan kepala tanda tidak faham. Beberapa turis dari Tiongkok, yang pada saat antri sempat berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan saya, ternyata juga berpura pura tidak mengerti bahasa Inggris sehingga dengan mudah lolos dari pemeriksaan di loket imigrasi.

Yang mana Masjid Aqsa ?

Salah satu tujuan dan agenda penting saat mengunjungi kota Yerusalem adalah berkunjung ke salah satu mesjid yang disucikan oleh umat Islam, yakni Masjid Aqsa, selain juga mengunjungi tempat tempat lain seperti kota Bethelhem (dalam bahasa Arab disebut Batha Lahimiyah) yang disucikan umat Kristen, dan Tembok Ratapan yang disucikan oleh umat Yahudi, dan kota kota terkenal sekitar Yerusalem seperti kota Jericho dan Hebron.

Ketika memasuki kawasan Aqsa, kita akan dibingungkan oleh adanya 2 masjid besar yang sama sama diklaim sebagai Masjid Aqsa. Ada masjid berkubah kuning emas (Dome of Rock) yang selama ini oleh sebagian besar umat Islam Indonesia dianggap sebagai Masjid Aqsa. Di depan masjid berkubah kuning ini ada sebuah masjid berkubah hitam kehijauan, yang ukurannya cukup besar, yang oleh sebagian orang juga di klaim sebagai Masjid Aqsa. Saya sendiri merasa cukup bingung ketika melihat ada 2 mesjid di kawasan tersebut. Beberapa kali saya menanyakan kepada pemandu lokal  kami yang merupakan seorang antropolog warga Yerusalem, dan berkali kali pula ia menjawab "sabar, nanti saya jelaskan" jawabnya. Setelah selesai berkeliling, barulah pemandu kami mengajak semua anggota rombongan untuk berkumpul mendengarkan penjelesan tentang posisi Masjid Aqsa sebenarnya. Menurut dia, kata "masjid" berasal dari kata “sujud” atau “sajadah” dalam bahasa Arab, yang diartikan sebagai kawasan atau tempat untuk sujud dan menyembah Tuhan, bukan diartikan sebagai bangunan. Jika diartikan sebagai bangunan masjid, maka dalam  bahasa Arab digunakan kata "jami'". Sehingga, Masjid Aqsa dalam artian bangunan masjid, sebenarnya tidak ada. Artinya, bangunan masjid berkubah kuning maupun berkubah hitam kehijauan yang selama ini dianggap sebagai Masjid Aqsa, sebenarnya bukanlah masjid Aqsa sebagaimana nabi Muhammad pernah singgah sebelum mi'raj, karena saat itu kedua bangunan masjid tersebut belum ada. Semua masjid di kawasan itu dibangun pada era kekaisaran Islam. Masjid berkubah kuning atau Dome of Rock sendiri dibangun oleh khalifah Umar bin Khattab pada tahun 691 M dan selesai pada tahun 715 M dijaman khalifah Walid. Itulah sebabnya masjid kubah kuning juga disebut sebagai masjid Umar. Dengan demikian, Masjid Aqsa yang selama ini diartikan sebagai sebuah bangunan masjid, akhirnya harus dimaknai sebagai sebuah "kawasan Aqsa"  yang luasnya sekitar 14 hektar. Sudah menjadi tradisi bagi bangsa Arab bahwa jika suatu wilayah digunakan sebagai tempat shalat atau beribadah, maka kawasan itu disebut "masjid" sekalipun kawasan itu hanya ditandai dengan beberapa onggok batu di pojok pojoknya. Kuat dugaan bahwa kawasan Aqsa, yang juga disebut Baitul Maqdis, ditetapkan oleh nabi Ibrahim sebagai kawasan ibadah bersama anak anak dan keturunan beliau, sampai nabi Ibrahim hijrah ke Mesir sehingga kawasan itu dititipkan kepada bangsa yang mendiami Yerusalem, yakni bangsa Palestina. Perubahan fungsi kawasan ibadah tersebut berganti seiring perubahan waktu dan perubahan pemerintahan yang menguasai kota Yerusalem. Menurut pemandu kami, dalam catatan sejarah panjang Yerusalem di kawasan itu pernah berdiri kuil Yahudi yang kemudian dihancurkan oleh kekaisaran Bizantium. Diduga di dalam kawasan tersebut juga pernah berdiri tempat ibadah umat Kristiani.

Sejalan dengan penaklukan kota Yerusalem oleh tentara Islam saat khalifah Umar bin Khattab, yang merebut Yerusalem dari kekuasaan uskup agung Severinus, maka wilayah itu kembali ditata dan dibangun. Pada lokasi di mana diyakini terdapat batu tempat nabi Muhammad berpijak saat melaksanakan mi"raj, kemudian dibangun masjid Umar atau Dome of Rock. Mesjid ini yang kemudian disalahartikan oleh sebagian Muslim sebagai Masjid Aqsa.

Merubah Persepsi

Saya merasa bersyukur bahwa perjalanan kami kali ini banyak merubah persepsi tentang beberapa hal di kawasan Timur Tengah. Selain merubah persepsi tentang pengertian dan batasan Masjid Aqsa, perjalanan kami kali ini telah merubah persepsi tentang keadaan di Yerusalem, Gaza, Tepi Barat, dan bangsa Palestina serta Israel. Wilayah yang saya sebutkan di atas, selama ini oleh media massa digambarkan sebagai wilayah konflik. Pada saat kunjungan kami, tampak bahwa wilayah wilayah tadi, termasuk Yerusalem, merupakan wilayah yang tenang dan damai. Satu satunya yang mencolok hanyalah adanya tembok pemisah antara pemukiman Muslim dan Yahudi, dengan bentuk bangunan yang berbeda pula. Yerusalem dihuni oleh sekitar 724 ribu jiwa dengan luas sekitar 123 km2, dan terbagi menjadi wilayah Yerusalem Timur  yang dihuni mayoritas oleh komunitas Palestina Muslim, dan Yerusalem Barat yang dihuni mayoritas oleh orang orang Yahudi Israel. Menurut pemandu kami, konflik di wilayah Palestina selama ini lebih pada konflik kepentingan beberapa negara asing dengan memanfaatkan sentiment agama. Buktinya, saat beberapa negara asing sibuk mengurusi isu isu lain di Timur Tengah, maka kawasan ini relatif tenang dari konflik. Perubahan persepsi saya tentang kawasan ini menjadi lebih kuat ketika melihat beberapa tentara yang menjaga kawasan Aqsa, yang jelas berseragam tentara Israel, segera mengambil air wudhu dan shalat ketika azan subuh berkumandang dari masjid kubah kuning. Ternyata, beberapa dari mereka adalah Muslim. 

0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan kode diatas)